Mitos Kelahiran Masyarakat Jawa: Prosesi Mendem Ari-Ari, Sadulur Papat Limo Pancer

samlike.net - Kelahiran seorang bayi di dunia adalah salah satu momen paling mengagumkan yang pernah dialami seorang manusia. Momen hidup dan mati antara ibunya dan bayi ini adalah sebuah proses sakral kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu bagi sebagian kebudayaan masyarakat, momen ini tidak boleh sembarangan dan harus dipersiapkan dengan baik.

Bagi masyarakat barat, Plasenta atau yang biasa kita sebut dengan ari-ari, merupakan sebuah benda yang tidak berharga dan akan dibuang begitu saja. Namun berbeda halnya jika dilihat dari sudut pandang budaya dan tradisi masyarakat Indonesia yang begitu kaya.

Plasenta dan tali pusar yang ikut keluar bersama dengan keluarnya si jabang bayi, bagi sebagian masyarakat Indonesia bahkan diperlakukan dengan baik layaknya memperlakukan si jabang bayi itu sendiri.

Para orang tua biasanya akan membersihkan dan menguburkan dengan layak sebagaimana menguburkan jasad seorang manusia.

Mitos Kelahiran Masyarakat Jawa: Prosesi Mendem Ari-Ari, Sadulur Papat Limo Pancer

Seperti yang ada dalam tradisi masyarakat Hindu-Bali, selain dengan air bersih mereka juga mencuci ari-ari dengan menggunakan air kelapa. Lalu ari-ari akan diletakan di dalam batok kelapa, untuk kemudian dibungkus dengan kain putih sebelum kemudian dikuburkan.

Lain lagi dengan yang dilakukan oleh masyarakat Bone, Sulawesi Selatan. Mereka akan menanam ari-ari mereka di bawah pohon kelapa yang besar dan tinggi, dengan harapan bayi yang baru saja lahir nantinya akan tumbuh besar dan bermartabat serta bermanfaat bagi orang banyak.

Namun satu yang paling sering kita jumpai adalah tradisi masyarakat jawa yang menguburkan ari-ari bayi mereka dengan tata cara khusus, hingga memberikan pagar dan lampu pada tempat ari-ari itu dikubur selama 35 hari penuh.

Bahkan ada juga kepercayaan yang mengatakan bahwa ari-ari, tali pusar, darah, hingga air ketuban yang turut keluar dalam proses persalinan akan menjelma menjadi sosok tak kasat mata yang akan terus mengawal bayi yang baru lahir tersebut hingga dewasa dan menemui ajalnya.

Apa sebenarnya makna dibalik prosesi penguburan ari-ari dalam masyarakat jawa tersebut. Dan apa yang dimaksud dengan sosok pendamping tak terlihat itu.

Prosesi "Cara Mendem Ari-Ari"

Mitos Kelahiran Masyarakat Jawa: Prosesi Mendem Ari-Ari, Sadulur Papat Limo Pancer
Dalam proses kelahiran seorang bayi, air ketuban, tali pusar dan plasenta yang membungkus janin bayi di dalam perut ibu akan ikut keluar. Dan bagi masyarakat Jawa, jaringan-jaringan tadi dianggap sangat berjasa.

Mulai dari pembentukan janin yang sehat dan sempurna, jaringan-jaringan inilah yang menjadi media hidup si jabang bayi selama berada di kandungan. Oleh karena itu, masyarakat Jawa sangat menghargainya dan memperlakukan sama baiknya dengan si bayi yang baru saja dilahirkan.

Setelah bayi dilahirkan, ayah dari si jabang bayi akan membersihkan plasenta dan tali pusar yang ikut keluar selama persalinan. Pembersihan dan penguburan ari-ari dilakukan oleh ayah, kakek, atau saudara laki-laki terdekat dari si jabang bayi.

Plasenta dan tali pusar tersebut kemudian dimasukan dalam kendil tanah liat, yang pada bagian dalamnya sudah dialasi oleh daun sente.

Dan pada bagian atas ditutup dengan penutup kendil tersebut. Dibagian tutup kendil tersebut diberikan beberapa benda yang diisyaratkan, biasanya termasuk juga beras, alat tulis dan buku kecil, sisir, cermin, hingga bunga, dan wewangian alami yang semuanya merupakan simbol harapan orang tua si jabang bayi.

Setelah itu kendil dibungkus dengan menggunakan kain kafan. Selanjutnya ari-ari akan dikuburkan di pekarangan depan rumah.

Untuk bayi laki-laki, ari-ari akan dikuburkan dibagian sebelah kanan pintu rumah dan jika perempuan disebelah kiri.

Yang terakhir adalah pada bagian atasnya akan ditutupi dengan pagar maupun kurungan dari bambu, dan kemudian diberi penerangan untuk menghindari pemangsa liar setiap malam selama 35 hari lamanya.

Ari-ari tidak boleh dibawa dengan cara sembarangan, melainkan digendong selayaknya menggendong seorang bayi.

Apakah yang membuat masyarakat Jawa begitu menghargai plasenta yang turut keluar bersama bayi selama proses persalinan? ini penjelasannya.

Prapto Yuwono selaku dosen Sejarah dan Kebudayaan Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, mengatakan, ada 4 elemen dalam sebuah proses kelahiran dan persalinan yang dikenal dalam masyarakat Jawa, yang disebut sedulur papat. Yang meliputi ari-ari atau plasenta, air ketuban, darah dan tali pusar.

Mereka lah yang selalu menemani si jabang bayi, mulai dalam kandungan terkait dalam melindungi dan menjaga keberlangsungan hidup si jabang bayi. Oleh karena itu harus diperlakukan dengan hormat, bahkan sebagian masyarakat ada yang menganggap itu sebagai kembarannya dari si bayi itu sendiri.

Pada beberapa kalangan bahkan percaya keempat elemen ini akan menjelma menjadi 4 sosok yang akan selalu mendampingi manusia hingga akhir hayatnya.

Sadulur Papat, Limo Pancer

Sebagian masyarakat Jawa tradisional percaya, setiap manusia yang lahir ke bumi akan selalu bersama dengan empat sosok pendamping. Hal ini dikenal juga dengan istilah, Sedulur papat, limo pancer.

Sedulur ini meliputi air ketuban yang pertama keluar pada proses persalinan sehingga dianggap kaka. Lalu ada ari-ari, sosok yang dianggap adik karena keluar setelah bayi pada proses persalinan. Kemudian ada getih dan pusar dari tali pusar, sedangkan yang kelima disebut pancer, yang tidak lain adalah roh dari bayi itu sendiri.

Sosok pendamping ini dikatakan memiliki rupa yang sama persis dengan manusia yang didampinginya.

Keempat sosok ini juga konon mewakili setiap hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.

  • Sosok pertama adalah jelmaan kawah (air ketuban). Sosoknya berwarna putih dan berwatak jujur serta welas asih.
  • Sosok kedua adalah jelmaan ari-ari dengan wujud yang berwarna kuning dan berwatak suka mengumbar hawa nafsu
  • Lalu ada getih yang disimbolkan dengan darah berwujud warna merah, dengan sifatnya yang keras dan pemarah.
  • Sedangkan yang terakhir jelmaan tali pusar berwarna hitam dan selalu ingin merasakan kesenangan.

Prapto Yuwono kembali mengungkapkan bahwa dalam tradisi masyarakat Jawa dipercaya bahwa keempat unsur tadi hanyalah alat. Jangan sampai kita terbawa oleh empat nafsu tadi.

Orang Jawa percaya justru ingsun atau roh jiwa yang ditiupkan Tuhan untuk hidup di dunia harus bisa mengendalikan keempat saudara pendampingnya tadi. Dan jangan sampai malah balik dikuasai oleh nafu-nafsu tadi. Jika itu terjadi, kita akan jadi salah arah dan terus terkontaminasi dengan duniawi yang akhirnya menjadi tersesat dan tidak bisa kembali kepada Tuhan.

Sedangkan masyarakat Jawa sendiri mempercayai ajaran mengenai Sangkan Paraning Dumadi. Dimana manusia memahami bahwa roh ditiupkan ke dunia  pada akhirnya harus mencari jalan untuk kembali kepada Tuhan yang Maha Esa.

Gangguan dunia lain

Tradisi masyarakat jawa juga mempercayai bahwa masa-masa kehamilan hingga si bayi yang baru lahir ialah fase-fase krusial. Tidak hanya bahaya dalam artian yang sesungguhnya, namun juga bahaya dari gangguan sosok-sosok tak kasat mata.

Dikatakan sosok-sosok jahat tersebut merasa iri akan kehidupan baru yang akan ditiupkan ke dalam rahim dan akhirnya lahir ke bumi dan kemudian berusaha mencegah semua itu terjadi.

Gangguan-gangguan ini dikatakan akan semakin hebat apabila roh yang akan diturunkan ke bumi merupakan calon-calon manusia utama yang akhirnya dapat membahayakan posisi dari makhluk-makhluk jahat tersebut.

Oleh karena itu, selain berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa, masyarakat Jawa juga berusaha memasang benteng pertahanan.

Dengan cara menuruti pantangan-pantangan dan juga selalu menyertakan dirinya dengan benda-benda yang dipercaya leluhur, maupun meminimalisir gangguan-gangguan jahat tersebut.

Beberapa diantaranya masih sering ditemui di masyarakat hingga hari ini adalah kepercayaan  mengenai bayi yang baru lahir tidak boleh keluar sebelum 40 hari. Kemudian ada juga pantangan yang menyebutkan, seorang bayi harus berada di dalam rumah dan selalu didampingi ketika waktu magrib.

Belum lagi ibu hamil dan anak yang baru lahir disarankan untuk menyertai dirinya dengan gunting kecil serta tanaman bangle yang dikaitkan pada baju menggunakan peniti.

Bau tanaman bangle yang menyengat dan tajamnya gunting bisa menghalau sosok tak kasat mata yang berniat jahat.

Begitulah..

Tradisi turun temurun memang patut dilestarikan, serta jangan lupa untuk mengambil setiap nilai positif yang terkandung didalamnya. Dan yang terpenting, apapun tujuannya, hindari syirik dan jangan pernah lupa hanya berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa.

***
Kami akan terus berusaha membuat bacaan yang menarik sebagai sarana atau cara menambah wawasan umum dan ilmu pengetahuan kita bersama.

Belum ada Komentar untuk "Mitos Kelahiran Masyarakat Jawa: Prosesi Mendem Ari-Ari, Sadulur Papat Limo Pancer"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel