Social Media

samlike.net - Masih ingatkah umur berapa kamu pubertas? Biasanya saat akan menginjak usia remaja, seorang anak akan mengalami perubahan fisik, psikis, hingga pematangan fungsi seksualnya. Masa pubertas biasanya dimulai ketika berumur 8-10 tahun dan berakhir kurang lebih diusia 15-16 tahun.

Untuk menyambut datangnya masa pubertas, beberapa wilayah di dunia ini mempunyai tradisi dan ritual yang harus dilakukan. Tradisi ini sudah mengakar dalam budaya atau keturunan suku dan sejarah. Berikut kami telah merangkumnya untuk kamu.

1. Dewi Kumari (anak perempuan tak boleh menapak bumi) - Nepal

Dewi Kumari Nepal
Diawali dengan sebuah tradisi Dewi Kumari di Nepal. Masyarakat Nepal mempercayai adanya seorang manusia dengan julukan Dewi Kumari yang terlahir sebagai titisan Dewi Taleju. Dewi Kumari sendiri merupakan dewi hidup yang disembah oleh umat Buddha dan Hindu di Nepal.

Mereka diangkat menjadi Dewi Kumari sejak usia yang masih sangat kecil sekitar 3-5 tahun; atau sebelum mereka memasuki masa pubertas. Dalam pemilihannya tidak sembarangan, untuk menjadi seorang Dewi Kumari harus melalui sebuah ritual yang dilakukan oleh para pemuka agama di kuil suci agama Hindu.

Dalam proses penilaian, para pemuka agama akan membaca berbagai pertanda dan melakukan penilaian berdasarkan 32 sisi kesempurnaan fisik manusia.

Nihira Bajracharya, seorang gadis imut berumur 5 tahun harus merelakan masa kanak-kanaknya untuk menjadi seorang Kumari terpilih pada februari 2018 kemarin. Sebagai seorang Dewi Kumari, Nihira tidak boleh menapakan kaki di tanah dan tidak diperbolehkan berbicara dengan orang lain selain dengan keluarganya.

Kumari terpilih juga harus tinggal terpisah dengan orang tuanya dan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan kuil. Dewi Kumari diizinkan meninggalkan kuil hanya pada saat ritual dan festival. Dan saat festival berlangsung, Kumari hanya boleh digotong dengan tandu emas dan diangkat oleh orang-orang terpilih.

Seorang Dewi Kumari akan kembali menjadi manusia biasa ketika dirinya terlah mendapatkan menstruasi pertamanya. Selanjutnya posisi dewi kumari akan digantikan oleh gadis lainnya yang dianggap memenuhi kriteria.

Dilansir dari National Geographic, "Aktivis hak asasi manusia dan pusat rehabilitasi wanita Nepal (WOREC), menentang dan mengutuk tradisi Kumari yang mereka anggap merampas masa kecil seorang anak perempuan.

Bahkan beberapa mantan Kumari tersebut mengalami kendala fisik saat ingin berjalan normal setelah berhenti menjadi Dewi Kumari, lantaran sejak kecil kakinya tidak pernah menapak tanah melainkan selalu digendong atau ditandu. Namun pemerintah setempat tetap melestarikan tradisi tersebut."



2. Sarung Tangan Semut Peluru - Brazil

Suku adat Sateré-Mawé  namanya yang tinggal jauh di dalam pelosok hutan Amazon. Suku yang menjadi bagian dari negeri Brazil ini punya ritual khusus untuk menandai masa peralihan dari anak laki-laki menjadi pria dewasa.

Ritual kedewasaan suku Sateré-Mawé ini disebut dengan ritual Tucandeira. Ritual ini mengharuskan anak laki-laki bertahan tanpa menangis saat tangan dikerubungi dan disengat oleh puluhan semut peluru yang berada dalam sarung tangan khusus.

Untuk melaksanakan ritual ini, tetua adat akan pergi ke hutan untuk mengumpulkan semut peluru. Mereka akan memberikan ramuan herbal pada semut-semut peluru yang mereka tangkap agar tidak sadarkan diri. Hal ini akan memudahkan tetua adat untuk memasukan semut tersebut ke dalam sepasang sarung tangan khusus yang terbuat dari daun untuk ritual ini.

Seiring dengan efek obat bius yang mulai habis, semut-semut akan mulai sadar dan gelisah. Sehingga membuat semut-semut itu menjadi agresif dan mulai mencari jalan untuk keluar dari sarung tangan tersebut sambil menyengat tangan si anak laki-laki yang dimasukan ke dalamnya.

Anak laki-laki ini akan dianggap berhasil melewati ritual kedewasaan apabila mampu melalui 10 menit tanpa menangis. Setelah itu anak laki-laki akan dianggap sudah mencapai tahap kedewasaan dan diakui sebagai bagian dari suku Sateré-Mawé.

Terkadang dibutuhkan hingga 20 kali percobaan agar sang anak lulus dari inisiasi ini. Ritual ini dilakukan untuk membuktikan bahwa kehidupan tanpa pengorbanan atau penderitaan adalah kehidupan yang tidak berharga.

3. Lompat Batu Nias - Indonesia

Fahombo atau lompat batu di Nias ini menjadi poin akhir pada pembahasan kali ini. Lompat batu adalah olahraga yang populer di tanah Nias. Fahombo hingga kini masih diadakan di desa Bawomataluo, Nias Selatan.

Tradisi lompat batu ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan terus diturunkan hingga generasi sekarang.

Pada masa dahulu, masyarakat di Nias sering berperang karena berbagai masalah sensitif yang harus dihadapi antar suku, baik karena urusan tanah, perbudakan ataupun balas dendam.

Untuk melindungi masing-masing desa, dibangunlah benteng dari batu atau bambu setinggi 2 meter untuk menghindari peperangan. Sejak itu, lompat batu Nias dijadikan persyaratan utama seorang anak dianggap sudah dewasa atau masih remaja tanggung. Bahkan sejak dini, anak laki-laki di Nias sudah dilatih ketangkasan untuk dapat melenting jauh agar batu setinggi 2 meter dapat dilompati tanpa harus terbentur dan jatuh mengenai batu-batu keras yang membuatnya cedera.

Acara lompat batu Nias ini diawali dengan keberadaan batu yang tersusun rapi setinggi 2 m, panjang 60 cm dan panjang 90 cm. Sejak dini anak-anak Nias sudah mulai mengatur strategi, mendengar tips dan petuah dari orang-orang yang sudah lolos uji kedewasaan supaya terhindar dari risiko yang fatal saat melakukan lompat batu.

Biasanya mereka mengenakan pakaian adat khusus dalam tesnya. Selain dinyatakan telah cukup dewasa, ia juga mendapat hadiah yang cukup istimewa, dimana keluarganya akan menyelenggarakan pesta yang cukup meriah dengan menyembelih hewan ternak.

Itulah ritual pubertas unik yang sudah samlike rangkum untuk netizen semua. Kira-kira netizen berani riual yang mana nih. hehehe

Post a Comment

Navigation Menu