samlike.net - Setiap orang pasti ingin rezekinya lancar dan dicukupkan oleh Allah SWT. Sehingga banyak orang yang melakukan amalan ibadah tertentu yang dianggap bisa mengundang rezeki, salah satunya dengan rajin melaksanakan shalat Dhuha. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau manfaat shalat Dhuha itu bisa melancarkan rezeki seseorang.

Tapi apakah benar seperti itu, karena tak sedikit yang sudah rajin shalat Dhuha tapi merasa rezekinya masih seret. Mengapa?
Manfaat Shalat Dhuha untuk rezeki
Dalam beberapa hadits yang menjelaskan tentang shalat Dhuha. Sebenarnya tidak ada yang menyebutkan kalau shalat Dhuha itu merupakan amalan yang dapat mengundang rezeki atau melimpahkan harta.

Shalat Dhuha itu merupakan amalan yang agung yang selalu Rasul lakukan dan beliau wasiatkan agar jangan sampai ditinggalkan. Siapa yang rutin melakukannya, maka termasuk orang-orang yang taat dan mengikuti sunnah Rasul SAW.

Abu Hurairah (r.a.) menuturkan,
"Kekasihku (Muhammad) mewasiatkan kepadaku, untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat shalat Dhuha, dan melakukan shalat witir sebelum tidur." (HR. Bukhari Muslim)

"Tidak ada yang menjaga shalat sunnah Dhuha, selain para Awwabin. Shalat Dhuha adalah shalatnya Awwabin." (HR. Ibnu Khuzaimah)

Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah, Awwabin adalah orang yang bertaubat dan kembali taat kepada Allah SWT.

Meski begitu, shalat Dhuha memang istimewa.

Diantaranya Rasul SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah berfirman: "Wahai anak Adam laksanakan untuk-Ku 4 rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu dengan shalat itu di akhir hari." (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani dan Syuaib Al-Arnauth)

Para ulama memiliki pandangan yang berbeda tentang empat rakaat yang dimaksud dalam hadits ini.

Sebagian berpendapat, empat rakaat itu adalah shalat Isyraq, ada juga yang mengatakan itu adalah shalat qobliyah shubuh dan shalat shubuh. Sementara, Ibnu 'Abdil Barr menyatakan empat rakaat tersebut adalah shalat Dhuha.

Berdasarkan inilah masyarakat meyakini, bahwa shalat Dhuha dapat membuka pintu rezeki. Karena dalam hadits itu disebutkan Allah akan mencukupinya di akhir hari apabila mengerjakan shalat empat rakaat di awal hari.

Menurut opini maksud ucapan Nabi "Aku akan mencukupimu" dalam hadits ini adalah engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai hingga akhir siang.

Al-Munawi juga menjelaskan maksudnya akan dicukupi diakhir siang adalah akan diselamatkan dari cobaan dan musibah diakhir siang.

Dalam Aunul Ma'bud, Al Adzim Abadi menambahkan hadits ini mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelamatkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari perbuatan dosa atau dia akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya.

Baca juga: Hukum Bersalaman Selesai Shalat

Jika dipahami, semua hal ini juga termasuk rezeki dan nikmat dari Allah. Sebab rezeki atau nikmat itu tidak selamanya berupa harta, melainkan bisa berupa ketenangan hidup, urusan yang mudah dan lancar, serta terhindar dari segala macam musibah.

Namun perlu diperhatikan, Islam mengajarkan kita untuk melakukan semua amal ibadah dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT. Artinya, ketika seseorang melakukan suatu ibadah, baik itu shalat Dhuha atau ibadah lainnya, harus diniatkan untuk mencari ridho Allah dan bukan karena tendensi duniawi. Karena yang dapat membuka pintu rezeki adalah ketaqwaan seorang hamba pada Tuhannya yang diwujudkan dalam ibadah yang ikhlas untuk mengharap pahala dan ridho Allah SWT.

Allah SWT berfirman,
"Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menyediakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Artinya setiap ibadah dan amal saleh apapun itu, jika dilaksanakan murni karena Allah dan sebagai wujud taqwa kepada-Nya, maka Allah janjikan rezeki yang tidak disangka dari mana datangnya.

Akan tetapi, jika seseorang melakukan shalat Dhuha semata-mata untuk menambah rezeki dunia tanpa ingin pahala atau balasan disisi Allah, maka akan menjadi orang yang merugi. Karena dia tidak akan mendapat bagian apapun di akhirat.

Sesuai firman Allah SWT,
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat." (QS. Asy-Syuraa: 20)

Dalam tafsirnya Ibnu Kahfi menjelaskan,

Barang siapa yang tujuan usahanya hanya semata-mata mencari suatu keuntungan duniawi dan tidak terlintas sedikitpun dalam hatinya untuk kepentingan akhiratnya, maka Allah mengharamkan baginya keuntungan di negeri akhirat.

Sementara tentang keuntungan dunia, Allah akan memberinya jika dia menghendaki. Dan jika tidak menghendakinya, maka Allah tidak memberikan apapun, baik keuntungan di dunia maupun keuntungan di akhirat. Orang dengan niat ini akan memperoleh kerugian di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, ketika melakukan ibadah atau suatu amalan, beribadahlah dengan ikhlas lillahi ta'ala. Insya Allah selain mendapat pahala dan ridho Allah ta'ala, Allah juga akan melapangkan pintu rezeki dan memudahkan segala urusan.

Wallahu 'alam.